Hai...

Assalamu'allaikum Wr Wb

Hai teman-teman, apa khabar? Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, amiin.

Selamat datang di blog komunitas penulis cilik di Surabaya, FLP Kids Surabaya.

Tertarik untuk bergabung? Kirim email saja ke: flpkids.surabaya@gmail.com

Salam,

FLP Kids Surabaya

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2010

Cinderella

Oleh Sarah Nabilah Azahra (7 th)

Dulu ada seorang pria yang sangat ganteng, sayangnya pria itu jahat dan jail. Ada wanita yang suka dengan pria itu. Katanya dia (wanita itu) mau menikah dengan pria itu. Lama-kelamaan pria itu resek dan selalu menjahili perempuan itu. Lalu datang Ibu Perinya dan berkata.

“Kenapa kamu menjahili Cinderalla?” Ohhh… jadi namanya Cinderella. Iya lhoo… kemana? (bersambung)

Cinderella Memetik Strawberry Ajaib di Kebun Strawberry

Oleh Rafika Izzatur Rahman (9 th)

Pada suatu hari di sebuah desa perkebunan, hiduplah seorang fakir miskin yang hidupnya susah. Dia hidup sebatangkara karena Ayah dan Ibu kandungnya sudah tiada. Dia bernama Cinderella. Dia mempunyai Ayah tiri, Ibu tiri dan dua saudara tiri perempuan. Ternyata mereka itu sebenarnya Paman, Bibi dan saudara sepupunya. Paman dan Bibi adalah saudara orang tuanya. Paman, Bibi dan sepupunya itu kaya. Suatu hari, Paman dan Bibinya bilang kalau sebenarnya Cinderalla itu kaya.

Pada suatu hari paman dan keluarganya pergi ke Paris van Java dan menginap di apartemen hanya untuk sementara. Dalam suatu perjalanan di Paris van Java, Paman, Bibi dan sepupunya kecelakaan dan nyawa mereka tidak terselamatkan. Akhirnya Cinderella hidup sendiri, sebatang kara. Aslinya kerajaan Paman dan Bibi itu hak Cinderella. Bukannya Cinderella menolak, tetapi ada orang yang merebu kerajaan itu.

Cinderella menangis, menangis dan menangis. Dia sudah tak bisa membeli sembako karena tidak mempunyai uang.

“Hiks… hiks… hiks… aku haus. Hiks… hiks… hiks… aku lapar. Hiks… hiks… hiks… aku tak punya uang hiks… hiks… hiks…” Lalu ada seorang tetangganya yang sabar, kaya, dermawan, baik, rendah hati. Dia bertanya kepada Cinderella.

“Kenapa cin? Kamu kok menangis? Mungkin kamu dari kemarin belum makan ya?”

“Ya. Aku lapar.” Jawab Cinderella dengan air mata yang masih bercucuran.

“Oh, kamu lapar? Mari ke rumahku. Kita makan bersama dan bicara-bicara. Hidup ini memang susah jadi…”

“Jadi apa? Apakah tak repot kalau aku makan bersama?” Tanya Cinderella.

“Tidak kok. Jadi ya? Gitu deh. Ya sudah, ayo dahar jeng ainga[1]. “ Ajak tetangga Cinderella.

“Ya sudahlah.” Kata Cinderella. Setelah selesai makan, mereka berdua berbincang-bincang.

“Oh iya, Cin. Besok, kamu boleh metik strawberry di kebunku, sepuasnya.”

“Terima kasih kalau gitu, ya.” Ucap Cinderella dengan gembira.

“Ya. Sama-sama.”

Keesokan harinya, Cinderella berangkat ke kebun strawberry itu. Dia membawa keranjang rotan buatan kakeknya. Dia memetik strawberry sepuasnya. Ketika pulang, dia membuka keranjang rotan yang besar sekali –sekoper kurang besar-. Ternyata yang paling besar menjadi emas semua. Keranjang yang sedang menjadi minuman dan makanan. Keranjang yang paling kecil berisi buah-buahan. Akhirnya, Cinderella menjadi kaya tetapi tidak sombong.


[1] (bahasa Sunda) yang artinya makan sama saya

Bawang Merah dan Bawang Putih

Oleh Tahsyah Nabilah Putri Agra Dewi (9 th)

Pada suatu hari, Bawang Merah pergi ke hutan mencari kayu. Bawang Merah pergi ke hutan sendirian tanpa didampingi siapapun. Bawang Merah mencari kesana kemari, dia disuruh oleh Bawang Putih. Bawang Merah mendapatkan kayu yang sangat banyak. Bawang Merah akhirnya pulang dengan badan yang sangat kotor.

Sesampai di rumah, Bawang Merah membawa kayu bakar itu ke dapur lalu Bawang Putih dating dan memarahi Bawang Merah.

“Eh, Bawang Merah! Kamu ngapain disini? Tempat kamu kan bukan disini.”

“Tapi, kata kamu aku masak.” Bawang Merah pun menjawab.

“Siapa bilang. Aku nggak bilang gitu.” Kata Bawang Putih. Si Bawang Merah pun pergi karena disuruh Bawang Putih. Ia pergi ke tempat yang sangat kotor, baud an sempit di tengah hutan juga.

Keesokan harinya, Bawang Putih dating dan menyuruh Bawang Merah untuk mencuci baju di sungai. Selesai mencuci, Bawang Merah disuruh untuk menyetrika baju. Saat Bawang Merah menyetrika baju ada yang telepon. Bawang Merah lupa kalau setrikanya nggak dimatiin. Bawang Putih mencium asap, ternyata asap itu dari setrika. Bawang Putih marah dan mengusir Bawang Merah.

Pada saat Bawang Merah mencuci, dia menemukan ikan mas. Ikan mas itu dimakan oleh Bawang Putih. Bawang Merah menangis dan tulang ikan ma situ ditanam di belakang rumah. Diatas kuburan ikan ma situ tumbuh pohon yang berdaun mas. Pada waktu itu, Pangeran menelpon, siapa yang bisa mencabut daun emas itu akan menjadi istrinya. Bawang Putih mencoba tapi tidak bisa. Bawang Merah pun mencoba dan langsung bisa. Bawang Putih iri dan Allah memberi hukuman padanya sampai bisa berubah. Akhirnya Bawang putih pun berubah menjadi baik hati. Bawang Merah dan pangeran bahagia.

Aurora dan Cinderela

Oleh Azafia Salsabila P. (9 th)

Pada zaman dahulu di Kerajaan antah berantah, di istana itu orangnya ramah-ramah karena pemimpinnya sangat hebat dan pintar. Rajanya bernama Raja aladin. Yang mempunyai dua orang anak gadis yang sudah besar bernama Aurora (sang kakak) dan Cinderela (sang adik). Mereka berpenampulan berbeda, Cinderela berpenampilan sangat sederhana sedangkan Aurora berpenampilan sangat mewah.

Cinderela ingin sekali keluar istana tapi Raja Aladin dan Ratu Elizabet tidak mengijinkan.

“Cin, kamu bisa jalan-jalan sama aku?” Aurora bertanya.

“Tapi kakak pamit ya pada Ayah dan Ibu.” Cinderala menjawab.

“Baik. Nanti saya pamit pada Ayah dan Ibu.” Aurora menjawab. Mereka berdua pergi ke istana untuk memohon ijin kepada Raja Aladin dan Ratu Elizabet. Setelah mereka meminta ijin, Cinderal ingin cepat-cepat berangkat.

“Tunggu dong. Aku ini lagi nyiapin makanan.” Kata Aurora. Beberapa lama kemudian mereka berangkat, Cinderela langsung memimpin jalan.

Cinderela berhenti disebelah rumah dan masuk dengan tidak sopan. Setelah mereka masuk, Cinderela melihat pemilik rumah.

“Hai. Bolehkah saya menginap?” Cinderela berkata.

“Oh, boleh.” Pemilik rumah menjawab. Mereka berkenalan. Ternyata pemilik rumah adalah Lilia. Aurora menyelinap masuk dan tidak mengucapkan apa-apa, tapi malah tidur.

“Itu siapa? Saudara kamu?” Lilia bertanya.

“Iya, tapi mohon dimaklumi ya. Dia memang begitu kebiasaanya.” Cinderela menjawab. Setelah selesai bercakap-cakap, mereka mulai tidur.

Setelah pagi datang, mereka terbangun. Aurora terbangun dan mulai sadar kalau selama ini sifat dan tingkah lakunya kurang terpuji, serta sering menyusahkan orang lain. Aurora mendatangi Cinderela dan pemilik rumah yang saat itu bercakap-cakap di beranda depan. Saat itu Aurora meminta maaf kepada pemilik rumah dan berjanji merubah sikapnya yang kurang terpuji. Mereka jalan-jalan disekitar perkebunan mangga pemilik rumah lalu mereka makan siang di kebun mangga. Tak lama sesudah itu, mereka pamit untuk kembali pulang ke istana.

Setelah sampai di kerajaan, Raja Aladin dan Ratu elizabet melihat Aurora mencium tangan Ratu.

“Bunda, maafkan aku jika aku berbuat salah.” Kata Aurora. Raja dan Ratu telah memaafkan Aurora. Mulai saat itu, sifat Aurora yang jahat dan selalu mau menang sendiri berubah menjadi ramah dan baik hati. Sehingga suasana di kerajaan antah berantah menjadi tentram, aman, damai dan sejahtera. Semuanya bahagia.